Senin, 09 April 2012

kisah hidup penderita HIV/AIDS

“Saya dilahirkan dalam keluarga yang sangat harmonis”, demikian Andreas Ridwan mengawali kisahnya. Anak ke empat dari empat bersaudara dan laki-laki satu-satunya ini sangat merasakan perhatian, kasih sayang orang tua dan saudari-saudarinya. Andreas kecil pun disekolahkan di sekolah-sekolah favourit di Medan mulai dari SD St. Yosef, SMP di St. Thomas I, dan SMA St. Thomas II. Ia pun sangat menikmati dan bangga sebagai Putra Altar Katedral (Pakral). “Dari kecil saya hidup di Gereja, jadi anggota Pakral. Rasanya asyik sekali hidup di lingkungan Gereja Katolik apalagi menjadi putra altar. Saya bangga bisa melayani pastor dan umat dalam perayaan ekaristi. Bertugas pada hari Raya Paskah dan Natal merupakan moment-moment yang sangat indah dan ditunggu-tunggu oleh setiap anggota putra altar,” kenang Andreas yang dilahirkan di Medan pada 29 Maret 1975 ini.

Selepas pendidikan di SMA (1993), Andreas bersama tiga orang temannya berangkat ke Yogyakarta. Ia berharap bisa melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi negeri Universitas Gajah Mada (UGM). Sayangnya, Andreas tidak lolos tes masuk perguruan ini. Andreas tidak patah semangat dan ia mencoba masuk perguruan tinggi swasta. Akhirnya ia diterima di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Keluarga Pahlawan Negara (STIE YKPN).

Awal Sebuah Kehancuran 
Tiga orang teman yang awalnya sama-sama berangkat dari Medan ke Yogyakarta akhirnya harus berpencar karena berbeda tempat kuliah. Yang satu bahkan tinggal di Jakarta. “Selama di Jogya tidak ada keluarga atau kerabat lainnya. Saya tinggal di rumah kost. Saya berusaha belajar sebaik mungkin. Yang ada dalam pikiran saya hanya kuliah dan belajar. Hasil studi saya pada awal-awal semester sangat memuaskan dengan indeks prestasi di atas angka 3. Dengan bangga saya mengirimkan hasil studi kepada Papa dan Mama. Saya mau membuktikan bahwa saya tidak menyia-nyiakan cinta dan perjuangan mereka”, papar Andreas dengan wajah berseri.

Sayang situasi itu tidak berlangsung lama. Awal 1994 celah-celah kehancuran mulai menampakkan dirinya. Di komplek rumah kostnya rupanya ada seorang bandar narkoba. “Ia memperkenalkan saya dengan narkoba. Itulah detik-detik awal kehancuran saya. Saya dengan dua orang teman dari Medan, termasuk yang di Jakarta, akhirnya ketagihan mengkonsumsi narkoba”, papar Andreas mengenang hari-harinya “berteman” dengan narkoba. Akhirnya dua orang temannya meninggal karena AIDS dan satu temannya lagi terikat menjadi seorang gay. “Saya tidak tahu kabar teman yang satu ini keadaannya sekarang bagaimana. Entah mengapa, kok Tuhan masih memberikan hidup kepada saya”, paparnya terbata-bata. Jenis narkotika yang pertama kali dipakainya adalah ganja, lalu meningkat ke jenis ecstasy, sabu-sabu dan akhirnya yang paling berat yaitu heroin atau yang sering disebut putaw. “Saya menggunakan putaw dari tahun 1995 sampai 2001. Dan itu penuh dengan penderitaan. Untuk mendapatkan semuanya ini, saya harus menipu banyak orang, termasuk orang tua. Biaya untuk kuliah dan beli buku pun dipakai untuk beli putaw. Dan akhirnya saya juga terikat dalam satu jaringan organisasi pengedar untuk dapat memenuhi kebutuhan konsumsi sendiri. Itulah hari-hari yang kami lakukan”, kisah Andreas.

Lokasi yang paling aman untuk mengedarkan narkoba maupun mengkonsumsinya, menurut Andreas adalah wilayah kampus. “Kami menjual dan memakai barang jahanam itu di kampus karena polisi tidak bisa masuk kampus. Itulah titik keamanan saya. Tahun 1998, dengan terseret-seret saya selesaikan kuliah saya dan saya undang orang tua untuk datang ke Yogyakarta guna menghadiri wisuda. Di situlah mereka baru tahu dan terkejut melihat badan saya yang sangat kurus. Apa yang dulu saya miliki semuanya ludes dan akhirnya saya mengaku kepada orang tua bahwa saya sudah menjadi pemakai narkoba. Dalam keadaan yang tidak menentu saya pindah ke Jakarta tetapi kebiasaan mengkonsumsi narkoba masih terus berlanjut,” tutur putra pasangan Stefanus dan Wenny ini berterus terang. Keadaan ekonomi negara yang terseok-seok ditambah sulitnya mencari pekerjaan akibat arus reformasi, ia terpaksa menerima tawaran bekerja sebagai sopir di Kedutaan Belgia selama setahun. Pekerjaan ini tentu tidak sesuai dengan latarbelakang pendidikannya. Sementara itu kondisi badannya sudah semakin ringkih akibat racun yang menjalari seluruh tubuhnya.

Masuk Rehabilitasi 

Akhirnya orang tua Andreas yang sangat mencintai anak laki-laki satu-satunya memboyong Andreas ke Medan pada 2000. Tindakan ini semata-mata karena cinta orang tua yang sangat besar kepada anaknya. Meskipun sudah dekat dengan orang tua, rupanya dorongan untuk mengkonsumsi narkoba tidak bisa ditahan begitu saja. Akhirnya Andreas dimasukkan ke panti rehabilitasi Cempaka, Bethesda. “Saya mengalami pengalaman jatuh bangun yang luar biasa, bagaimana caranya supaya saya terbebas dari barang-barang yang menghancurkan hidup saya ini. Pergolakan yang sangat kuat saat itu adalah rasa ingin keluar dari situasi yang tidak menentu. Saya mengalami kebosanan dan kelelahan yang luar biasa, capek sekali, baik secara materi, fisik, mental dan dunia ini rasanya kecil, tidak indah sama sekali”, kenangnya lagi.

Perasaan awal mengkonsumsi narkoba diakuinya sangat menyenangkan. Semua berjalan indah dan seakan tak ada masalah. “Meskipun sesungguhnya saat itu saya sedang lari dari masalah. Tapi lama-kelamaan berubah. Memakai narkoba itu hanya untuk menghilangkan rasa sakit belaka, apalagi saat sakau mulai menyerang akibat ketergantungan. Tidak ada lagi rasa nikmat yang saya rasakan. Rasanya badan sakit sekali dan ingin terus dibenturkan ke tembok, kadang semuanya mau dibanting sampai berguling-guling. Kalau sudah mengalami sakau seperti itu, rasanya narkoba itu sebagai dewa penyelamat”, paparnya.

Perjuangan di Panti Rehabilitasi 
Usaha-usaha yang dilakukan Andreas di tempat rehabilitasi tidaklah mudah. Berkali-kali ia mengalami sakau dan rasa sakit yang tak bisa dielakkan. Rasa ingin mencicipi dan menikmati benda-benda yang selama ini menjadi teman sehari-harinya selalu terbayang di depan matanya. Andreas merasa hidupnya dipenjarakan. Ia menggambarkan dirinya sebagai orang yang bodoh dan tidak tahu apa-apa. “Betul-betul seperti orang bego”, katanya sambil mentertawakan dirinya sendiri.Tetapi berkat ketekunan, motivasi yang kuat untuk sembuh dan berubah, serta dorongan doa dan semangat dari kedua orang tuanya, Andreas pelan-pelan menampakkan hasil perjuangannya yang sangat berarti.

“Saya mengalami dan mendapatkan sebuah kesadaran atas kesalahan yang telah dilakukan. Hal ini juga didorong oleh peristiwa meninggalnya dua teman saya pada 2001. Hal itu membuat saya ketakutan”, paparnya. Andreas pun akhirnya oleh para pendampingnya dianggap berprestasi dalam masa-masa pemulihannya tersebut. Ia bukan lagi menjadi residen tapi menjadi mentor bagi teman-temannya senasib yang berada di panti rehabilitas tersebut. Hal ini menurutnya membutuhkan waktu selama dua tahun.“Selain pendekatan kepada Allah, saya coba melayani lewat komunitas sel, dan berbagi firman dalam kelompok sel. Timbul niat di hati dan pikiran saya untuk berubah atas kedosaan yang ada. Saya sangat merugikan orang banyak termasuk keluarga yang saya cintai, akhirnya saya putuskan untuk melayani Tuhan dan orang yang senasib dengan saya. Sayapun mendapatkan semangat baru karena teman-teman yang baru di rehabilitasi bisa melihat contoh bahwa ada sosok yang berhasil dalam mengikuti proses rehabilitasi. Saya semakin merasa percaya diri. Yang sungguh saya rasakan peran orang tua. Mereka sangat mendukung saya, sejahat apapun perbuatan yang saya lakukan mereka tetap sayang pada saya. Sampai saya terinfeksi HIV, bahkan AIDS mereka tetap mendukung saya”, demikian Andreas bersyukur atas usahanya ini dan peran orang tua dalam memulihkan kondisinya. Andreas merasa semakin dekat dan intim dengan Tuhan. Andreas mulai semangat membaca Kitab Suci sebagai penopang semangat untuk hidupnya.

Positif Terjangkit HIV 
Saat itu ada kunjungan suatu yayasan yang menangani para penderita HIV dan AIDS dari Jakarta. Mereka menerangkan tentang bahaya HIV dan AIDS lewat kebiasaan tukar-menukar jarum suntuk. Waktu itu, Andreas sudah menjadi relawan di yayasan Galatea selama 1,5 tahun sebagai case manager yang menangani kasus HIV positif. Di dalam yayasan ini dibentuk suatu kelompok dukungan sebaya yang di dalamnya terdapat orang-orang yang terinfeksi HIV/AIDS atau orang-orang yang dekat dengan HIV/AIDS misalnya anak, orang tua, istri atau saudara. Pada 2003, Andreas memberanikan diri untuk menjalani tes HIV. Untuk mendapatkan hasil tes itu dibutuhkan waktu sekitar dua minggu. “Waktu itu saya merasa sehat. Berat badan saya sekitar 65 Kg, tidak mungkin saya terkena HIV. Tapi kenyataannya justru sangat bertolak belakang. Apa yang saya takutkan rupanya sungguh-sungguh menimpa diri saya. Hasil dari tes itu, saya dinyatakan positif terjangkit virus HIV. Saat mendengarkan hasil tes tersebut, perasaan yang muncul saat itu rasanya hancur. Saya tidak akan lama lagi hidup di dunia. Saya mengurung diri di kamar. Yang saya pikirkan hanyalah apakah saya bisa hidup lagi. Apakah saya mati nanti masuk neraka. Itulah ketakutan-ketakutan yang membayangi saya. Kejadian itu berlangsung sampai enam bulan. Saya mengalami traumatis yang sangat dalam setelah saya tahu terkena HIV. Tapi karena dukungan dari teman-teman yang mengalami hal yang sama, yang saya jumpai dalam training tentang HIV, saya banyak tahu tentang HIV/AIDS. Banyak di antara mereka yang sudah belasan tahun bahkan puluhan tahun hidup dengan HIV. Itu semua membangkitkan semangat hidup saya, rupanya HIV bisa dikendalikan. Sekarang saya menganggap HIV bukan musuh dalam tubuh saya tapi akhirnya saya bisa mengatakan bahwa HIV adalah sahabat saya. Bahkan anugerah dari Tuhan dalam hidup saya yang paling indah”, papar Andreas.

Pada 2006 Andreas dinyatakan positif mengidap AIDS. “Kemungkinan saya sudah tertular sejak 1998/99 karena sebelumnya tidak pernah menjalani tes HIV dan AIDS. Berat badan saya mulai menurun dan diserang diare terus-menerus. Mulai timbul candidiesis jamur. Saya tidak bisa jalan, lemas, HB saya sampai 7, akhirnya Papa saya membawa saya ke Jakarta dan berobat di rumah sakit Dharmais. Di rumah sakit ini saya berobat cukup lama. Sampai tiga kali saya bolak-balik Medan-Jakarta untuk menjalani perobatan. Di 2007, saya mulai merasa enak. Dari berat badan saya 35 Kg yang tinggal tulang sama kulit, sekarang sudah mencapai 55 Kg. Dari kekebalan tubuh 32 terakhir tes, sudah 289 karena saya sudah minum obat teraphy anti retroviral (ARV) . Obat ini diminum seumur hidup. Sampai sekarang obat ini masih gratis, ada subsidi dari global fund”, paparnya.

Loncatan Peziaran Batin 
Ada loncatan peziarahan batin yang terjadi pada diri Andreas. Ia semakin percaya diri. Sikap orang tua Andreas yang sangat mengangkat semangat Andreas adalah kata-katanya yang menyatakan “tidak perlu takut menghadapi hidup di kemudian hari. Kalau kamu mengidap HIV dan AIDS bukan berarti akan mengalami kematian lebih dulu. Ada banyak peristiwa kematian di sekitar kehidupan; kecelakaan, bencana alam dan sebagainya. Kalau Tuhan inginkan semuanya terjadi tentu terjadi”. Kata-kata orang tuanya ini selalu diingat Andreas. “Sikap penebusan atas kesalahan yang telah saya lakukan kepada orang tua dan keluarga adalah saya tidak mau membuat Papa dan Mama kecewa lagi. Saya sudah menerima sakramen perminyakan dan merasa tidak ada harapan lagi. Tapi itu mukjijat karena saya masih diberi kehidupan. Masa-masa aktif di misdinar sangat berperan mengembalikan semangat hidup saya sekarang. Kalau saya dilahirkan kembali saya ingin menjadi anak yang bisa memanfaatkan hidup sebagai anugerah Tuhan sebaik-baiknya”, papar Andreas.

Bergabung dengan Cordia 
Perkenalannya dengan Cordia Caritas Medan, berawal ketika sepulang dari gereja, ibunya membawa sebuah brosur tentang Cordia Caritas Medan. Dalam brosur tersebut tertulis bahwa salah satu program Cordia yang akan dikembangkan adalah pelayanan bagi pengidap HIV dan AIDS. Saat itu Andreas masih bekerja di Medan Plus, khusus menangani orang dengan HIV dan AIDS. Ia mengaku selama ini belum pernah mengenal Cordia apalagi dengan program pendampingan kepada pengidap HIV dan AIDS. Pada 2006 saya sakit dan diberhentikan dari Medan Plus. Saya harus istirahat total.Akhirnya Andreas menjumpai P. Frietz R. Tambunan, Pr, Direktur Cordia. Andreas memperkenalkan dirinya sebagai penderita HIV dan AIDS. Ia bahkan langsung menawarkan diri untuk membantu Cordia dalam salah satu programnya tersebut. Pastor Frietz R. Tambunan, Pr tidak menyia-nyiakan peluang ini dan Andreas pun langsung diminta untuk bergabung dengan Cordia.
“Saat itu saya katakan kepada Pastor Frietz bahwa dalam sisa hidup ini, saya hanya ingin melayani Tuhan melalui orang-orang yang terkena HIV dan AIDS. Saya menyadari bahwa kelahiran saya ke dunia rupanya untuk melayani” demikian niat baik Andreas dalam melayani sesamanya.

Stigma dan Diskriminasi  
Sampai saat ini Andreas merasa bahwa hidup sebagai pengidap HIV dan AIDS, apalagi harus hidup bersama dengan masyarakat lainnya, masih dirasakan berat. Maka Andreas merasa paling nyaman bisa hidup bersama keluarga karena di masyarakat masih banyak diskriminasi dan stigma yang negatif terhadap penderita HIV dan AIDS. Tetapi di Cordia sendiri saya merasa senang karena teman-teman menerima saya apa adanya. Tidak ada pembedaan dengan yang lain misalnya dalam pemakaian piring, gelas yang saya pakai, dsb.
“Saya ingin mensosialisasikan tentang HIV dan AIDS kepada masyarakat supaya masyarakat, khususnya umat Katolik tidak menancapkan stigma dan diskriminasi untuk orang yang terkena HIV dan AIDS. Saya mau menunjukkan inilah wajah manusiawi orang yang terkena HIV dan AIDS yang berjuang untuk hidup terus supaya teman-teman tidak seperti saya. Cukup saya saja yang terinfeksi. Jangan sampai rantai itu semakin panjang. Saya ingin mata rantai itu terputus mulai dari saya. Saya juga ingin agar proses sosialisasi dan advokasi dengan merujuk ke salah satu rumah sakit khusunya RS. St. Elisabet dapat berjalan dengan baik. Saya berharap RS St. Elisabet menerima program kerjasama ini bersama Cordia” jelas Andreas yang memiliki hobby bermain musik dan menyanyi ini.
Selain itu, menurut Andreas, Cordia juga memfasilitasi pertemuan untuk para pengidap HIV dan AIDS dengan istilah internal meeting sebulan sekali. Pengidap HIV dan AIDS di Medan menurut dinas kesehatan ada sekitar 801 orang. Menurut WHO, satu orang terinfeksi HIV berarti di belakangnya ada seratus orang. Hal ini menurut Andreas berkaitan dengan cara-cara pemakaian jarum suntik secara bergantian, perilaku seks bebas atau berganti-ganti pasangan.Menurutnya masyarakat tidak perlu takut berhadapan dengan para pengidap HIV dan AIDS. Proses penyebaran HIV dan AIDS tidak semudah yang dibayangkan. “Saya dan teman-teman sesama penderita tidak ada pikiran sama sekali untuk menularkan penyakit ini kepada orang lain. Biarlah kami saja yang terinfeksi. Dalam hal ini, sosialisasi dari pemerintah masih kurang. Mata mereka hanya tertuju kepada kelompok resiko tinggi saja. Kalau bicara kondom dianggap kami melegalkan prostitusi, kalau kami menggunakan jarum suntik kami melegalkan narkoba. Saya sendiri sampai sekarang ingin menyatakan kepada masyarakat bahwa pendidikan seks sangat penting bagi anak-anak. Untuk jaman sekarang setiap keluarga harus memulai pendidikan seks dan pengetahuan tentang narkoba”, papar Andreas yang memiliki motto hidup: Tidak usah cemas akan hari esok. Just for today!

Mendambakan Hidup Berkeluarga 
Sebagai seorang manusia, Andreas pun mendambakan untuk hidup berkeluarga. Andreas sudah memiliki pacar. Pacarnya tahu kalau Andreas pengidap HIV dan AIDS. “Saya katakan secara terus terang bahwa saya menderita HIV dan AIDS dan hal ini tidak menjadi masalah baginya. Asalkan jangan diketahui keluarganya bahwa saya pengidap HIV dan AIDS. Kalaupun keluarga pacar saya akhirnya tahu kondisi saya, saya sudah siap untuk ditolak. Saya percaya pada penyelenggaraan ilahi. Mungkin ini cara Tuhan berkarya dalam hidup saya. Saya berusaha untuk mengandalkan Tuhan sampai sekarang”, paparnya. Andreas menyadari betul kondisinya ini dan tahu betul resiko yang akan ditanggungnya.
Andreas sudah sangat memahami penyakitnya. Ada banyak program yang bisa dijalani oleh para penderita HIV dan AIDS yang hendak menikah di antaranya PMTHT (Preventing Mother to Health Transmission). Ini satu cara supaya bayi yang dilahirkan tidak tertular. Hal ini menurut Andreas bisa dilakukan, misalnya proses kelahiran dengan operasi caesar, tidak dilahirkan secara normal, tidak diberikan air susu ibu (ASI) tapi susu formula. Ini merupakan kemajuan kedokteran.“Saya ingin berkeluarga dan ingin mempunyai keturunan. Saya ingin menunjukkan bahwa saya bisa menjadi bapak yang baik seperti Papa saya dan anak saya tidak seperti saya. Ini yang saya cita-citakan dan perjuangkan”, katanya dengan mantap. Saat memberi kesaksian di hadapan umat Katedral, orang tuanya tercinta juga turut hadir. “Saya sangat terharu dan bangga melihat Papa dan Mama. Mereka siap menanggung akibat untuk didiskriminasi dan di stigmatisasi. Saya bersyukur karena mereka tetap mendukung saya”, katanya sambil berkaca-kaca. Menutup pembicaraannya, Andreas berpesan kepada kaum muda untuk jangan pernah mencoba mengkonsumsi narkoba atau melakukan perilaku seks bebas. “Pokoknya jangan sampai ada rekan-rekan muda yang mengalami sakitnya mengkonsumsi narkoba dan mengidap HIV/AIDS. Cukup saya saja,” katanya.
Kini Andreas sudah tiada. Pada Mei 2008 yang lalu ia menghadap Sang Khalik. Andreas, semoga engkau bahagia di Surga! Perjuanganmu untuk kembali ke “Rumah Bapa” sungguh luar biasa! (bnj; pernah dimuat di Menjemaat, Majalah Keuskupan Agung Medan)
WebRepOverall rating

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar